PERSEPSI RISIKO BENCANA PADA WISATAWAN LAVA TOUR MERAPI DI SLEMAN, YOGYAKARTA
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi risiko bencana wisatawan pada destinasi wisata Lava Tour Merapi. Lava Tour Merapi merupakan wisata berbasis bencana (dark tourism) yang berkembang di kawasan lereng Gunung Merapi dan berada pada wilayah dengan ancaman erupsi yang tinggi. Persepsi risiko wisatawan menjadi aspek penting karena berpengaruh terhadap rasa aman, kesiapsiagaan, dan perilaku wisatawan selama melakukan aktivitas wisata di kawasan rawan bencana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, studi literatur, dan survei menggunakan angket kepada wisatawan yang berkunjung ke Lava Tour Merapi. Analisis dilakukan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan dan persepsi wisatawan terhadap bahaya erupsi Gunung Merapi, termasuk awan panas, abu vulkanik, material panas, serta tingkat keamanan aktivitas wisata di kawasan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas wisatawan memiliki pemahaman yang baik mengenai bahaya erupsi Gunung Merapi dan menyadari bahwa aktivitas Lava Tour dilakukan di kawasan rawan bencana. Wisatawan juga menunjukkan persepsi risiko yang cukup tinggi terhadap ancaman awan panas dan material vulkanik, meskipun masih terdapat variasi persepsi terkait tingkat keamanan aktivitas wisata ketika didampingi pemandu wisata.
References
[2] Kurniasih, S. T. (2020). Wisata Bencana Dan Respon Ekonomi: Siasat Masyarakat Dalam Mengelola Rumah Bekas Erupsi (Studi Kasus Tiga Objek Wisata di Kawasan Lava Tour Merapi, Yogyakarta) (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada).
[3] Agustin, H., Rifai, M., & Ediyono, S. (2022). Ketika Sisa Letusan Gunung Api Menjadi Komoditi Wisata: Analisis Risiko Obyek Wisata Lava Tour Merapi Yogyakarta. Jurnal kesehatan komunitas (Journal of community health), 8(2), 219-228.
[4] Muktaf, Z. M. (2017). Wisata Bencana: Sebuah Studi Kasus Lava Tour Gunung Merapi. Jurnal Pariwisata, 4(2), 84-93.
[5] Korstanje, M. E. (2009). Re-visiting risk perception theory in the context of travel. e-Review of Tourism Research, 7(4), 68–81.
[6] Chen S, Gu C, Wei J and Lv M. (2023). Research on the influence mechanism of privacy invasion experiences with privacy protection intentions in social media contexts: Regulatory focus as the moderator. Front. Psychol. 13:1031592. doi: 10.3389/fpsyg.2022.1031592
[7] Saputra, A., Hidayat, M., & Saabiq, R. (2025). Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Pemahaman dan Kesiapsiagaan Masyarakat Terhadap Bencana di Desa Kaliurang Yogyakarta. Jurnal Pariwisata Dan Perhotelan, 2(4), 14. https://doi.org/10.47134/pjpp.v2i4.4633
[8] Roehl, W. S., & Fesenmaier, D. R. (1992). Risk perceptions and pleasure travel: An exploratory analysis. Journal of Travel Research, 30(4), 17–26. https://doi.org/10.1177/004728759203000403
[9] Hasan, M. K., Ismail, A. R., & Islam, M. F. (2017). Tourist risk perceptions and revisit intention: A critical review of literature. Cogent Business & Management, 4(1), 1412874. https://doi.org/10.1080/23311975.2017.1412874
[10] Karl, M., & Schmude, J. (2017). Understanding the role of risk (perception) in destination choice: A literature review and synthesis. Tourism, 65(2), 138–155.
[11] Heitz, C., Shimabuku, M.N. (2017). The role of individuals’ risk representations in risk management - case-study on lahars in Arequipa (Peru). Geoenviron Disasters 4, 28. https://doi.org/10.1186/s40677-017-0093-x
[12] Wachinger, G., Renn, O., Begg, C. and Kuhlicke, C. (2013). The Risk Perception Paradox—Implications for Governance and Communication of Natural Hazards. Risk Analysis, 33: 1049-1065. https://doi.org/10.1111/j.1539-6924.2012.01942.x








