FRIKSI KEBERLANJUTAN COMMUNITY-BASED TOURISM DI DESA WISATA BILEBANTE
Abstract
Penelitian ini menganalisis dinamika tata kelola dan friksi keberlanjutan Community-Based Tourism (CBT) di Desa Wisata Bilebante, Lombok Tengah, yang telah berstatus desa wisata mandiri namun menghadapi kerentanan struktural. Pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi terhadap 12 informan kunci, pendukung, dan triangulasi. Analisis data mengikuti model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña, dengan penekanan pada tema partisipasi, ekonomi lokal, lingkungan, budaya, dan tata kelola kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CBT di Bilebante telah membangun partisipasi masyarakat, keragaman atraksi berbasis alam dan budaya, serta kerangka kelembagaan formal (POKDARWIS, BUMDes, Perdes). Namun, keberlanjutan dibayangi friksi berupa lemahnya regenerasi aktor, ketergantungan pada wisata berbasis reservasi kelompok, ketiadaan infrastruktur pengelolaan sampah yang memadai, terbatasnya diversifikasi produk budaya, dan rendahnya kapasitas bahasa asing pemandu. Kondisi ini mengindikasikan community-driven development without strong governance support yang menghasilkan keberlanjutan semu (pseudo-sustainability). Studi ini menegaskan bahwa keberhasilan CBT tidak cukup diukur dari tingkat partisipasi, tetapi sangat ditentukan oleh kualitas tata kelola, kapasitas institusi lokal, dan dukungan struktural lintas pemangku kepentingan
References
[2] Bowen, G. A. (2009). Document analysis as a qualitative research method. Qualitative Research Journal, 9(2), 27–40.
[3] Budiatiningsih, M., Putri, B. P., & Dini, M. F. (2024). KEBERHASILAN PENERAPAN KONSEP PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT: STUDI KASUS DI DESA WISATA NGLANGGERAN. Jurnal Ilmiah Hospitality, 13(1), 123. https://doi.org/10.47492/jih.v13i1.3380
[4] Crăciun, A. M., Dezsi, Ștefan, Pop, F., & Cecilia, P. (2022). Rural Tourism— Viable Alternatives for Preserving Local Specificity and Sustainable Socio-Economic Development: Case Study—“Valley of the Kings” (Gurghiului Valley, Mureș County, Romania). Sustainability (Switzerland), 14(23). https://doi.org/10.3390/su142316295
[5] Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design (4th ed.). Sage.
[6] Damanik, J. (2013). Pariwisata Indonesia: Antara Peluang dan Tantangan. Pustaka Pelajar.
[7] Febrian, A. W., & Suresti, Y. (2020). Pengelolaan wisata kampung blekok sebagai upaya peningkatan ekonomi masyarakat berbasis community based tourism kabupaten situbondo. JURNAL ADMINISTRASI BISNIS, 9(2), 139. https://doi.org/10.14710/jab.v9i2.25308
[8] Hadi, M. J., Lume, L., & Widyaningrum, M. (2022). Pemetaan Potensi Wisata, Peluang dan Tantangan Pengembangan Desa Wisata Pengadangan Barat, Kabupaten Lombok Timur. Journal of Tourism and Economic, 5(1), 32–45. https://doi.org/10.36594/jtec.v5i1.138
[9] Hulu, M. (2016). Pengelolaan Pariwisata Berkelanjutan Studi Kasus: Desa Wisata “Blue Lagoon” Di Kabupaten Sleman, DIY. Journal of Tourism and Economic, 1(2), 73–81.
[10] Kriska, M., Andiani, R., & Simbolon, T. G. Y. (2019). PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM COMMUNITY BASED TOURISM DI DESA WISATA PUTON WATU NGELAK KABUPATEN BANTUL. JSEP (Journal of Social and Agricultural Economics), 12(1), 11. https://doi.org/10.19184/jsep.v12i1.9606
[11] Lina, F. Y. (2023). Community-Based Tourism (CBT): A Community Development Tool. European Journal of Business and Management. https://doi.org/10.7176/ejbm/15-17-01
[12] Mtapuri, O., & Giampiccoli, A. (2014). Towards a comprehensive model of community-based tourism development. South African Geographical Journal, 98(1), 154. https://doi.org/10.1080/03736245.2014.977813
[13] Nambisan, S. (2008). Transforming Government Through Collaborative Innovation. Washington, DC: IBM Center for The Business of Government.
[14] Patton, M. Q. (2015). Qualitative research & evaluation methods (4th ed.). Sage.
[15] Pradnyadari, I. G. A. (2023). Heterogenitas dalam Homogenitas: Praktik Pariwisata Berkelanjutan di Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta. Pustaka: Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya, 23(2), 147-154. https://doi.org/10.24843/PJIIB.2021.v21.i02
[16] Purmada, D. K., Wilopo, & Hakim, L. (2016). Pengelolaan Desa Wisata dalam Perspektif Community Based Tourism (Studi Kasus pada Desa Wisata Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang). Jurnal Administrasi Bisnis (JAB), 32(2), 15–22.
[17] Putra, S. A., Fatmasari, B. R., Annisa, L., & Furqan, A. (2023). PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT: LANGKAH TEPAT KEBERLANJUTAN? Jurnal Master Pariwisata (JUMPA), 159. https://doi.org/10.24843/jumpa.2023.v10.i01.p07
[18] Rahmadani, N. D., & Agustina, I. F. (2024). Pengembangan Berbasis Gender: Mengubah Dinamika Desa di Indonesia. Indonesian Culture and Religion Issues., 1(1), 20. https://doi.org/10.47134/diksima.v1i1.34
[19] Rasoolimanesh, S. M., Jaafar, M., & Ahmad, A. G. (2022). Community participation and sustainable tourism development. Journal of Sustainable Tourism, 30(1), 1–19.
[20] Su, M. M., Wall, G., & Xu, K. (2020). Community-based tourism and governance. Sustainability, 12(15), 1–18.
[21] Suansri, P. 2003. Comunity Based Tourism Handbook. Bangkok, Thailand: Responsible Ecological Social Tours (REST) Project.
[22] Sunaryo, B. (2013). Kebijakan Pembangunan Destinasi Pariwisata: Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Yogyakarta: Gava Media.
[23] Syarifah, R., & Rochani, A. (2022). Studi Literatur: Pengembangan Desa Wisata Melalui Community Based Tourism Untuk Kesejahteraan Masyarakat. Jurnal Kajian Ruang, 1(1), 109. https://doi.org/10.30659/jkr.v1i1.19983
[24] Yuardani, A. M., Heriyanto, H., Qadri, U., Rinaldi, H., Wana, D., Tandra, R., Sulaiman, S., & Prestoroika, E. (2021). Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pendampingan untuk Pengembangan Pariwisata pada Desa Sungai Kupah. Jurnal Abdidas, 2(2), 176. https://doi.org/10.31004/abdidas.v2i2.239Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis (3rd ed.). Sage.
[25] Yin, R. K. (2018). Case study research and applications (6th ed.). Sage Publications.








