PERAN KEARIFAN LOKAL DALAM MENCIPTAKAN EXPERIENTIAL TOURISM DI DESTINASI CIREBON
Abstract
Perkembangan pariwisata global saat ini menunjukkan pergeseran paradigma menuju experiential tourism yang menekankan kualitas pengalaman autentik melalui interaksi mendalam dengan kearifan lokal. Meskipun Cirebon memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam hasil akulturasi berbagai bangsa, pemanfataannya saat ini masih cenderung berorientasi pada penyajian atraksi fisik yang konsumtif daripada pembangunan pengalaman yang bermakna bagi wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi kearifan lokal dalam pengembangan experiential tourism di Cirebon serta peran para aktor dalam membentuk pengalaman wisata yang autentik. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pengelola Pokdarwis, observasi lapangan di kluster keraton, industri kreatif, dan kuliner, serta studi dokumentasi yang dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal merupakan fondasi utama yang ditransformasikan menjadi pengalaman wisata melalui mekanisme storytelling dan partisipasi aktif wisatawan. Pokdarwis berperan strategis sebagai kurator dan mediator budaya yang menjaga keseimbangan antara pelestarian nilai sakral dan komersialisasi pariwisata. Namun, ditemukan tantangan berupa belum optimalnya integrasi nilai budaya ke dalam layanan industri hospitality yang masih sebatas menggunakan simbol visual sebagai dekorasi tanpa narasi yang kuat. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan penguatan kapasitas interpretasi budaya bagi pemangku kepentingan untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.
References
[2] Dixit, S. K., & Prayag, G. (2022). Gastronomic tourism experiences and experiential marketing. Tourism Recreation Research, 47(3), 217–220. https://doi.org/10.1080/02508281.2022.2065089
[3] Dolezal, C., & Novelli, M. (2022). Penelitian tentang budaya lokal dan pariwisata berkelanjutan.
[4] Hutomo, F., Utomo, S. W., Soesilo, T. E. B., Haryanto, J. T., Rahawarin, M. F., & Sakina, N. A. (2026). Building sustainability frameworks for tourism villages in Yogyakarta, Indonesia: An interpretive structural modeling approach. Social Sciences & Humanities Open, 13(2026), 102852. https://doi.org/10.1016/j.ssaho.2026.102852
[5] Kasemsarn, K., & Nickpour, F. (2025). Digital Storytelling in Cultural and Heritage Tourism: A Review of Social Media Integration and Youth Engagement Frameworks. Heritage, 8(6), 200. https://doi.org/10.3390/heritage8060200
[6] Mahrinasari, M. S., Bangsawan, S., & Sabri, M. F. (2024). Local wisdom and Government’s role in strengthening the sustainable competitive advantage of creative industries. Heliyon, 10(2024), e31133. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e31133
[7] Mujahidin, A. (2016). Peranan Kearifan Lokal (Local Wisdom) dalam Pengembangan Ekonomi dan Perbankan Syariah di Indonesia. Jurnal Ilmiah Syari’ah, 15(2), 153–168
[8] Njatrijani, R. (2018). Kearifan Lokal Dalam Perspektif Budaya Kota Semarang. Gema Keadilan, 5(1), 16–31
[9] Pine, B. J., & Gilmore, J. H. (2011). The experience economy. Harvard Business Press.
[10] Pribadi, T. I., Suganda, D., & Saefullah, K. (2021). Inkorporasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Pengembangan Pariwisata Budaya di Kampung Sasak Ende, Lombok Tengah. Khasanah Ilmu: Jurnal Pariwisata Dan Budaya, 12(2), 89–96. https://doi.org/10.31294/khi.v12i2.9817
[11] Ramadhani, Z. A., Wijaya, D. A. S., Naufal, Y. Y., Wahiddinsyah, F., & Maulana, D. F. (2026). Model Community-Based Experimental Tourism Mlipiria sebagai Inovasi Pengembangan Industri Kreatif Pariwisata. Jurnal Inovasi Daerah, 5(1), 1–15
[12] Sartini. (2004). Menggali Kearifan Lokal Nusantara: Sebuah Kajian Filsafati. Jurnal Filsafat. Vol 14(2), 111-120. https://journal.ugm.ac.id/wisdom/article/view/33910/20262
[13] Setiawan, E., Sukesi, K., Hidayat, K., & Yuliati, Y. (2021). Conservation of Natural Resource Management in the Buffer Village Community of Alas Purwo Banyuwangi National Park East Java Indonesia Based on Local Wisdom. Local Wisdom Scientific Online Journal, 13(1), 100–111. https://doi.org/10.26905/lw.v13i1.5109
[14] Sugiyono. (2021). Metode penelitian kualitatif: Untuk penelitian yang bersifat eksploratif, enterpretif, interaktif dan konstruktif. Alfabeta.
[15] Syafrini, D., Amelia, L., Sasmita, S., Susilawati, N., Permata, B. D., Saputri, F., Yolanda, M. N., & Sari, M. D. (2026). Transforming traditional villages into cultural heritage tourism destinations: Insights from the Minangkabau community in Indonesia. Social Sciences & Humanities Open, 13(2026), 102475. https://doi.org/10.1016/j.ssaho.2026.102475
[16] Wang, N. (1999). Rethinking Authenticity in Tourism Experience.
[17] Xie, Y., & Yu, J. (2025). Ringkasan mutakhir mengenai Experience Economy dalam Encyclopedia of Tourism.
[18] Zulhuda, R., Delima, I. P., Oktavianti, W., Azizah, F., & Zora, F. (2025). Kearifan Lokal sebagai Sumber Inspirasi dalam Pengembangan Produk Wisata Budaya Kreatif. Innovative: Journal Of Social Science Research, 5(3), 2089–2100











