PENGEMBANGAN PARIWISATA NON BAHARI DI KABUPATEN MANGGARAI BARAT SEBAGAI ALTERNATIF WISATA BAGI WISATAWAN PASCA SAILING TRIP DI LABUAN BAJO
Abstract
Kabupaten Manggarai Barat dengan ibu kota Labuan Bajo merupakan destinasi wisata yang berkembang pesat berkat potensi wisata baharinya. Pemerintah melalui Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menetapkan Labuan Bajo sebagai salah satu dari lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) di Indonesia. Namun, fokus pengembangan yang hanya menitikberatkan pada wisata bahari menimbulkan ketimpangan dengan sektor wisata non bahari di wilayah lainnya yang ada di Kabupaten Manggarai Barat. Akibatnya, manfaat perkembangan pariwisata belum dirasakan secara merata oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan memberikan rekomendasi pengembangan wisata non bahari untuk mendukung eksistensi Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas. Penelitian dilakukan di berbagai daya tarik wisata non bahari di Kabupaten Manggarai Barat dengan metode deskriptif kualitatif dan dianalisis menggunakan teknik analisis PESTEL.
References
[2] Angga Pradikta. 2013. Strategi Pengembangan Objek Wisata Waduk Gunungrowo Indah dalam Upaya Meningkatkan Pendapatan asli Daerah Kabupaten Pati. Universitas Negeri Semarang.
[3] Brandano, M.G. 2013. Evaluating Tourism Externalities in Destinations: The Case Of Italy. Italia: University Sassari
[4] Buhalis, D., & Foerste, M. (2015). SoCoMo marketing for travel and tourism: Empowering co-creation of value. Journal of Destination Marketing & Management, 4(3), 151–161. https://doi.org/10.1016/j.jdmm.2015.04.001
[5] Dixion.2013.Assessing the Economic Impact of Sport Tourists’ Expenditures Related to a University’s Baseball Season Attendance. Journal of Issue in Intercollegate Athletics, 2013, 6,96-113.
[6] Febrina, Nini. 2015. ‘Persepsi Wisatawan Tentang Daya Tarik Wisata Pemandian Tirta Alami Kabupaten Padang Pariaman’. Skripsi pada Program Studi D4 Manajemen Perhotelan Jurusan Kesejahteraan Keluarga Fakultas Teknik, Universitas Negeri Padang.
[7] Rosyidah, Eka, Dkk. 2017. Pengaruh Daya Tarik Wisata dan Fasilitas Layanan Terhadap Kepuasan Wisatawan di Pantai Balekambang Kabupaten Malang. Jurnal Administrasi Bisnis, Vol.51 No.2 Oktober 2017
[8] Hermawan, H. 2016. Dampak Pengembangan Desa Wisata Nglanggeran Terhadap Ekonomi Masyarakat Lokal. Jurnal Pariwisata, 3(2), 105-117.
[9] Khotimah, K., & Wilopo, W. 2017.“Strategi Pengembangan Destinasi Pariwisata Budaya “(2013). Jurnal Administrasi Bisnis, 42 (1).
[10] Moleong, Lexy J., 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Penerbit Rosdakarya Bandung.
[11] Nazir, Moh. (2005). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
[12] Rahmawati, A., & Rachma, D. (2023). The Role of Digital Marketing and Influencer Collaboration in Strengthening Tourism Brand Image in Indonesia. West Science Journal of Innovation Studies, 3(2), 45-55.https://wsj.westsciences.com/index.php/wsis/article/view/1700
[13] Suratmo, Gunawan. (2004). Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
[14] Sugiarto, Antonius & Mahagangga, I Gusti Agung. (2020) Kendala Pengembangan Pariwisata di Destinasi Pariwisata Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur (Studi kasus komponen produk pariwisata). Jurnal Destinasi Pariwisata. Vol.8 No.1
[15] Ward, J & Peppard, J. (2016). The Strategic Management of Information System. Wiley
[16] Weidenfeld, A. (2018). Tourism Diversification and Its Implications for Smart Specialisation. Sustainability, 10(2), 319. https://doi.org/10.3390/su10020319
[17] Widagdo, R, & Rokhlinasari, S. 2017. Dampak Keberadaan Pariwisata Realigi Terhadap Perkembangan Ekonomi Masyarakat Cirebon. Al-Amwal: Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah, 9(2).











