ANALISIS KOMPONEN 4A (ATTRACTIONS, ACCESSIBILITY, AMENITIES, DAN ANCILLARY) PADA DAYA TARIK WISATA GOA BANGKANG, DESA PRABU, KABUPATEN LOMBOK TENGAH
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komponen 4A (Attractions, Accessibility, Amenities, dan Ancillary) pada daya tarik wisata Goa Bangkang yang berlokasi di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek attraction Goa Bangkang memiliki keunikan berupa keberadaan ribuan kelelawar, panorama alam, dan potensi wisata edukasi. Dari sisi accessibility, lokasi Goa dekat dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dan mudah diakses kendaraan, namun masih minim rambu petunjuk arah serta transportasi umum. Pada aspek amenities, fasilitas dasar seperti area parkir, restoran, akomodasi, warung lokal, dan pemandu telah tersedia, tetapi fasilitas penunjang seperti ATM, klinik, dan toko cinderamata masih terbatas. Sedangkan aspek ancillary, pengelolaan dilakukan oleh pihak yang ditunjuk dan digaji oleh pemilik lahan untuk menjaga serta mengelola Goa secara mandiri dengan dukungan terbatas dari pemerintah dan lembaga pariwisata. Kesimpulannya, Goa Bangkang memiliki potensi besar sebagai destinasi ekowisata, namun perlu penguatan fasilitas, promosi, dan kolaborasi antar pemangku kepentingan agar dapat berkembang secara optimal.
References
[2] Cooper, C., Fletcher, J., Gilbert, D., & Wanhill, S. (1993). Tourism: Principles and Practice. Harlow: Longman Group Limited.
[3] Cooper, C. (2010). Contemporary Tourism: An International Approach. Oxford: Butterworth-Heinemann.
[4] Fahmi, R., Pratama, A., & Nuraini, D. (2023). Peran Pokdarwis dalam Pengelolaan Destinasi Budaya Kampung Sasak Ende. Jurnal Kepariwisataan Nusantara, 4(2), 77–88.
[5] Karni, L., Utami, D., & Rahmawati, A. (2023). Implementasi Komponen 4A pada Daya Tarik Wisata Pura Tanjung Bukur di Bali. Jurnal Kepariwisataan dan Kebudayaan, 8(1), 101–112.
[6] Kotler, P., & Keller, K. L. (2012). Marketing Management (14th ed.). Pearson Education International.
[7] Nasrullah, R. (2015). Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
[8] Nurul Izati. (2024). Analisis Pengaruh Aksesibilitas terhadap Pengembangan Daya Tarik Wisata Alam di Kabupaten Lombok Timur. Jurnal Penelitian Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif, 5(1), 33–42.
[9] Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2021 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan.
[10] Rangkuti, F. (2009). Strategi Promosi yang Kreatif dan Analisis Kasus: Integrated Marketing Communication. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
[11] Salsabila, I., & Puspitasari, A. Y. (2023). Peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dalam Pengembangan Desa Wisata. Jurnal Kajian Ruang, 3(2), 241–252. https://doi.org/10.30659/jkr.v3i2.29524
[12] Sriwi, R., & Hulfa, F. (2019). Analisis Penerapan Komponen 4A pada Daya Tarik Wisata Selong Belanak, Lombok Tengah. Jurnal Ilmiah Pariwisata dan Bisnis, 3(1), 45–54.
[13] Sukmadinata, N. S. (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
[14] Utomo, A., Raharjo, B., & Wibisono, M. (2024). Pengaruh Aksesibilitas dan Amenitas terhadap Daya Tarik Wisata di Kabupaten Sleman. Jurnal Pengembangan Pariwisata Indonesia, 9(2), 121–132.
[15] Wulandari, D., Prakoso, H., & Hidayat, E. (2025). Strategi Penguatan Fasilitas dan Layanan Wisata Alam di Pantai Watu Karung. Jurnal Destinasi dan Pengelolaan Pariwisata, 7(1), 89–100.
[16] Yoeti, O. A. (2006). Tourism Planning and Development. Jakarta: Pradnya Paramita.











