ANALISIS POTENSI PENGEMBANGAN PARIWISATA PERKOTAAN BERBASIS SITUS WARISAN BUDAYA DI KOTA MATARAM
Abstract
Kota Mataram sebagai ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata perkotaan berbasis situs warisan budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi pengembangan pariwisata berbasis situs warisan budaya di Kota Mataram menggunakan pendekatan matriks IFAS-EFAS. Situs-situs warisan budaya yang diteliti meliputi Taman Mayura, Pura Meru, Makam Loang Baloq, Makam Jenderal Mayor P.P.H. Van Ham, Kota Tua Ampenan, dan Museum Negeri NTB. Hasil penelitian menunjukkan Kota Mataram memiliki keunggulan kompetitif berupa lokasi strategis situs-situs bersejarah yang berada di pusat kota dengan jarak relatif dekat, keberagaman tipologi warisan budaya, dan aksesibilitas yang baik. Analisis matriks IFAS-EFAS menempatkan posisi pariwisata warisan budaya pada kuadran 5 (Hold and Maintain), yang memerlukan fokus pada strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk berkelanjutan. Tantangan utama meliputi minimnya kegiatan festival, keterbatasan pengelolaan dan pendanaan, serta kurangnya perhatian pemerintah. Rekomendasi strategi mencakup program promosi agresif, pengembangan paket wisata terintegrasi, inovasi interpretasi sejarah melalui teknologi digital, dan penguatan kolaborasi antar stakeholder untuk mengoptimalkan potensi pariwisata warisan budaya yang berkelanjutan di Kota Mataram.
References
[2] Ashworth, Gregory, and Stephen J. Page. “Urban Tourism Research: Recent Progress and Current Paradoxes.” Tourism Management 32, no. 1 (February 2011): 1–15. https://doi.org/10.1016/j.tourman.2010.02.002.
[3] Cooper, Chris. Tourism: Principles and Practice. Pitman, 1993.
[4] Danial, Lalu Muh. “KAJIAN BIROKRASI DARI ASPEK HISTORIS DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH PROVINSI NUSATENGGARA BARAT” 3, no. 1 (2016).
[5] Database Peraturan | JDIH BPK. “UU No. 4 Tahun 1993.” Accessed November 11, 2024. http://peraturan.bpk.go.id/Details/46496.
[6] Galli, Antonio. “Effect of Cultural Heritage on Tourism Development in Italy.” International Journal of Modern Hospitality and Tourism 4, no. 2 (November 6, 2024): 54–65. https://doi.org/10.47604/ijmht.3061.
[7] Harrison, David. Tourism and the Less Developed World: Issues and Case Studies. CABI, 2001.
[8] Ihsan, Mohammad, Eli Jamilah Mihardja, and Fatin Adriati. Peran Heritage Engineering Dalam Pembentukan Branding Kota Tua Ampenan, Mataram - NTB. Jakarta: Universitas Bakrie Press, 2020. https://repository.bakrie.ac.id/4417/.
[9] Inskeep, Edward. Tourism Planning: An Integrated and Sustainable Development Approach. John Wiley & Sons, 1991.
[10] Law, Christopher M. Urban Tourism: The Visitor Economy and the Growth of Large Cities. Continuum, 2002.
[11] Mbulu, Yustisia Pasfatima, Riza Firmansyah, and Nungky Puspita. “INDENTIFIKASI DAYA TARIK PARIWISATA PERKOTAAN TERHADAP TINGKAT KUNJUNGAN WISATAWAN DI KOTA MATARAM LOMBOK.” Tourism Scientific Journal 3, no. 1 (2017): 74–91. https://doi.org/10.32659/tsj.v3i1.36.
[12] Sudirman, H., and Bahri. Studi sejarah dan budaya Lombok. Pusat Studi dan Kajian Budaya Prov. NTB, 2014.
[13] Sulistyanto, Bambang. “Penerapan Cultural Resource Management Dalam Arkeologi.” Amerta: Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Arkeologi, January 1, 2009. https://www.academia.edu/36213504/Penerapan_Cultural_Resource_Management_Dalam_Arkeologi.
[14] Zakaria, Fathurrahman. Mozaik budaya orang Mataram. Yayasan Sumurmas al Hamidy, 1998.











